BaristaLife
PersonalLife
Starbucks
Being eksis is good, but...
12:22 AM![]() |
| The Johny English while coffee tasting |
Konon di kampus
dan dilingkaran pertemanan di Jogja ini, gue secara nggak sengaja terbilang punya
citra yang cukup serius. Ceritanya gini, jurusan Komunikasi di kampus gue dibagi lagi jadi 4 konsentrasi studi: Jurnalisme, Advertising, Public
Relations, dan Kajian Media. Gue memilih yang terakhir, yang mana dari segenap
mahasiswa seangkatan yang jumlahnya sekian ratus itu, yang senekat dan
seimpulsif gue dan ngambil konsentrasi Kajian Media itu cuma....lima orang.
Awalnya gue nggak sengaja milih konstud ini,
karena gue nggak ngerasa nggak cantik untuk masuk PR, nggak kreatif untuk masuk
Adver, tapi juga males panas panasan nyari berita kayak anak Jurnal. Sementara,
kabar burung yang gue denger, anak Kajian Media mah enak, kerjanya cuma diskusi
dan bedah buku sambil ngopi sama dosen, dan, anak Kamed terkenal jarang kerja kelompok (karena
belakangan gue tahu yang milih ini cuma dikit, mau dibagi kelompok gimanaa,
juga). Akhirnya gue ambillah konstud ini bersama empat cowok absurd lainnya: gue
sang waria berambut cepak, ditambah satu anak teater yang jarang mandi,
ditambah tiga cowok jawa yang rambutnya panjang sepunggung. Ngeliat kelakuan
anak anak yang nggak pernah serius, becandaannya yang abstrak dan super gondes,
sebenernya ini lebih cocok disebut sebagai sekelompok dukun aneh yang
kerjaannya mojok makan sajen ayam goreng dan kopi item di kantin kampus sambil
ngomongin proyek serius; gimana caranya nyantet presiden amerika.
Tapi apa daya,
prilaku kita yang ajaib ditambah muka yang sering kusut karena memikirkan tugas
segejibun dari dosen ngebuat kita secara nggak sengaja dicap serius sama anak lain
di kampus. Jadilah kami terkenal sebagai power ranger, alias lima orang
so-anti-mainstream yang mengumpankan jiwanya ke tangan dosen dosen yang konon
terkenal keji, dengan aktivitas harian membedah buku buku tebal berbahasa
Inggris.
Itulah alkisah
awal mula gue secara nggak sengaja membubuhkan kesan serius pada citra gue.
Selanjutnya,
kekhilafan gue untuk nyalon jadi Presiden BEM, ditambah kerjaan gue yang
terkesan ‘anak aktivis’ banget makin bikin anak anak kampus nganggep gue anak
yang super serius dan cenderung mengarah
ke mistik.
Nah. Dalam
rangka nunjukkin sebagian diri gue yang sebenarnya alay dan nggak serius serius
banget, akhir akhir ini gue ceritanya bikin Instagram. Yeps, I know, I knooow it’s too late, disaat anak anak gawl lainnya
udah hijrah ke Path, Periskop, Snapchat dan lainnya. Tapi nggakpapa lah, secara gue emang suka fotografi, dan
secara gue trauma abis laptop gue kemalingan dan semua foto berharga hilang
digondol anjing, gue berupaya menyimpan sebagian besarnya di Instagram ini.
Di minggu minggu
awal kerja di Starbucks, gue beberapa kali upload foto bareng temen temen gue
yang entah kenapa mendadak jadi demen banget main kesana. Jadilah di insta gue
ada banyak foto me-in-green-apron-with-friends. Asek. So kekinian. Setelah itu,
tiap hari ada aja yang nge Whatsapp gue nanyain, “Mil, kerja di Starbucks?” dan
diikuti dengan “wah bisa dapet gratisan dong nih”. Anjir mendadak sok eksis
gini. Pokoknya I feel so happy, sekalipun capek banget, tapi gue bisa kerja
sambil nyolong nyolong kongkow dan ketawa tiwi bareng temen temen atau customer
yang mendadak gue jadiin temen. Ah indahnya, apalagi kata bos gue di awal
kontrak dulu, kerjaan khas anak baru jadi CP/Cafe Partner ini akan berlangsung
sebulan-dua bulan lagi, jadi gue masih punya banyak waktu sebelum jadi barista
beneran bikin bikin kopi di dalam bar, hihihi.
Di minggu kedua,
manager store gue ngumumin sesuatu. Berhubung kita bakal kedatangan gelombang
barista baru lagi, mendadak kerjaan
batch gue jadi makin kompleks; nggak cuma nyapu-ngepel-cuci piring sambil
ketawa ketiwi sama customer, tapi gue kudu buruan hafalin resep, masuk bar dan
ngebuat minuman. Maksudnya biar kita buruan pinter dan yang lain bisa gantian
ngajarin barista baru yang akan segera dateng. Tapi yaudah lah ya, secepet cepetnya juga
paling sebulan lagi gue baru masuk bar. Gue pun nyantai aja dan nggak ngafalin
sama sekali catatan resep yang serenteng itu.
Pada hari itu,
gue dapet shift closing dengan job utama sebagai CP dan diswasher. Artinya,
hari itu akan asik seperti biasa, gue masih bisa keliling keliling sambil kenal
kenalan sok asik dengan customer, sambil ala ala bersihin rak merchandise atau
condiment bar (meja berisi gula, bubuk bubuk pemanis lainnya buat yang mau
improve kopinya). Kebetulan banget segerombol monyet-monyet alias temen temen
SMA gue yang kuliah di Jogja lagi mampir. Jadi gue sambil kerja, sesekali
mampir ke base mereka di sofa pojokan buat nimbrung cekikikan. Pecat-able
banget kan, hihi. Semoga bos gue nggak akan pernah kebaca tulisan ini selama
lamanya, amin.
Tiba tiba, nggak
ada angin nggak ada hujan apalagi badai khatulistiwa, PIC gue si Kak Ain yang
super baik itu bilang: “Emil, masuk ke bar ya. Coba buat minuman.”
“Aku udah bikin
PB tadi kak” jawab gue.
Setiap yang
kerja di Starbucks ini ceritanya punya jatah minuman yang disebut PB (Partner
Beverages), yang mana kita boleh bikin sendiri minuman untuk kita for free,
pada saat break. Gue pikir si Kak Ain lagi mempersilakan gue bikin minum buat
diri gue sendiri dong. Kemudian dia bilang lagi, “bukan, coba kamu tes masuk
bar dan bikin minuman buat customer”.
Lah.
Lah.
Gue keringet
dingin. Ini baru seminggu kerja, bro. Secara gue masih menata hidup dan menata
tulang yang berantakan setiap gue pulang kerja, manalah gue hafal resep. Duh kenapa
juga gue nggak mengindahkan warning dari store manager gue beberapa hari lalu.
Duh tapi kan tetep aja ini kecepetan. Duh tapi nggak ada waktu lagi buat
mengutuk diri ini. Duh mana lagi ada monyet monyet pula, mampus deh gue
diketawain kalo bikin kacau. Sekarang gue harus memilih: menolak perintah
atasan untuk masuk bar dengan resiko yang tak terbatas seperti gue akan digiling
di grinder kopi atau di mesin dishwasher, atau menerima tantangan dengan resiko
yang juga tak terbatas, seperti meledakkan mesin kopi, memecahkan blender atau membuat
orang keracunan, misalnya.
Kemudian gue
ambil yang kedua. Setidaknya resikonya nggak kena langsung ke gue, hehe. Bitch.
Masuklah gue ke bar. Order pertama: ice greentea latte. Semesta emang baek.
Jaman training dulu, gue juga pernah disuruh tes bikin minuman sambil baca
resep, dan salah satu minumannya adalah ice greentea latte. Ini mah gampang.
Gue memasukkan semua ingredients kedalam shaker, lalu mengshake dengan anggun.
Well done. Gue berhasil mempersembahkan minuman pertama gue untuk customer
tercinta. Aha, setidaknya gue nggak membuat kekacauan yang membuat gerombolan monyet
monyet itu punya bahan ketawaan. Kemudian, order kedua: ice signature
cohocolate. Semesta baik parah. Ini juga ingredientsnya gampang, cuma susu,
coklat dan ice, sekalipun gue nggak ingat komposisinya. Ah tapi cincailah itu
bisa nanya. Yang penting gue nggak harus gemerusukan kejar kejaran detik dengan
mesin kopi, atau bersentuhan dengan urusan nyeteam susu yang susah banget.
Gue mengambil
jug cairan coklat dari dalam chiller di bawah stanplat mesin kopi, dan langsung
menuang isinya ke dalam cup. Tapi isinya tak kunjung keluar. Setelah gue cek,
ternyata tutupnya si jug belum diputar, ya jelas buntu dong. Kemudian gue
putar, dan cairan coklat yang terlihat lezat itu turun perlahan. Sangat
perlahan, saking kentalnya. Gue menunggingkan pantat jug nya, sampe cairan turun makin deras, makin nungging, makin deras
lagi, sampai tiba tiba... PLOK.
Tutup jug jatuh
di hadapan gue.
Diikuti isinya.
Bagaikan
bendungan yang jebol, semua ambyar tak terkendali.
Brengsek. Gue
numpahin setengah jug cairan coklat. Gue panik. Semua panik. Mana itu cairan
makin menyebar tak terarah, menyelinap di bawah mesin kopi, netes ke karet
karet di bawah kaki, mengalir ke atas chiller dan lengket bukan main. Gue coba
ngelap, hasilnya nihil. Terlalu banyak cairan yang tumpah. Gue pengen nangis,
tapi gue nggak pengen bikin minuman customer jadi asin ketumpahan air mata.
Lagian gue nggak pengen bikin monyet monyet kegirangan dan motretin gue yang
lagi nangis. Akhirnya si Billa, barista senior yang cantik dan baek banget itu
mengambil alih keadaan. Doi gesit bantu ngelap-bilas-ngelap-bilas, sementara
gue ambil pel pelan buat ngepel lantai. Barista lain bantu bersihin chiller dan
bawah mesin kopi, dan kekacauan mereda dalam 5 menit. Gue masih shock.
What the hell am I doing to my life.
What the hell am I doing to my life.
Untuk
menyelamatkan store dari kekacauan lain yang akan gue buat, gue tau diri dan langsung
out dari bar tanpa diminta. Untuk menebus dosa dan sekalian buang malu, gue
nemenin Riesta, si barista senior juga buat pergi ngambil stock tutup cup dan segambreng
barang barang lainnya di gudang basement. Setelah itu, gue kembali ke kodrat semula gue
sebagai diswasher.
Keadaan kembali
normal. Semua beraktivitas seperti sediakala dan lupa dengan kerugian setengah
jug cairan coklat yang sudah gue sebarkan dengan sia sia. Gue lanjut mencuci
piring, memasukkannya ke dalam Zanusi (mesin pencuci piring) dan mengelapnya
sampai kering. Terusm gue nyiapin satu bak plastik di atas kursi untuk menaruh
piring bersih, untuk kemudian gue anter ke depan. Tiba tiba seorang cowok
dateng ke backroom, dan gue disuruh kenalan ke itu cowok oleh PIC gue. Kenalan
lah kita, dan gue meninggalkan piring piring kesayangan gue untuk sementara. Ternyata
cowok itu bernama Dugo, dan dia adalah barista juga di store cabang sebelah. Berkenalanlah
kita, sambil haha hihi standar.
Gue undur diri
ke Dugo untuk ngelanjutin tugas dishwash, sambil mundur literally. Rupanya dewi
kesialan belum beranjak. Saat gue mundur, bak berisi piring bersih itu
kesenggol dan terjun bebas dari kursi. Bang..zat. Gue mati aja apa gimana
nih. Gue emosi sama keadaan. PIC gue yang tetap baik hati apapun yang gue
lakukan itu menenangkan gue. Beberapa barista masuk setelah mendengar suara
menggelegar ini. Untungnya, rejeki anak soleh, setelah dihitung, ternyata
piring yang pecah cuma satu diantara sekitar dua puluh piring lainnya. Ajaib. Alhamdulilah
bangeeet, rasanya gue pengen solat saat itu juga.
Tapi dua jam
kemudian, gue baru sadar. Ternyata pecahan piring yang jatuh tadi telah membuat
kotak tempat naruh measuring cupnya es batu, yang berbahan aklirik itu, telah
tugel alias cuil. Gue nggak tau lagi gimana harus memaafkan diri gue. Piring
putih gampang dicari, lah kalo kotak itu, bahkan gue aja nggak tau nyebutnya
apa. Kayanya gue emang bener bener lagi ditegur Tuhan biar nggak terlalu banyak
cekikikan dalam bekerja. Atau mungkin jadi barista sebenernya emang bukan jalan
hidup gue? Atau jangan jangan semesta lagi pengen ngetes sekuat apa gue
bertahan mendisiplinkan diri dalam kerjaan yang totally new buat gue ini?
Terserahlah.
Now I feel like
Im a Johny English in MI7, you know, like gue yang bakatnya ngerusuh ini
menyelinap diantara para barista yang kelakuannya rapi dan tertata abis.
Besokannya, gue bekerja dengan lebih serius dan teliti. Gue sangat berhati hati pada setiap inchi hal yang gue pegang. Selain monyet monyet yang kemarin dateng itu, gue nggak pengen ada lagi yang tau kalo gue udah membuat sejuta kekacauan disini. Enough. Gue pengen dianggep sebagai barista yang anggun dan berwibawa, membuat kopi tanpa menumpahkan apapun.
Beberapa temen
gue dateng lagi hari itu. Pertama si
Lintang dan Ghulam. Gue nyamperin dan melayani seperti biasanya. Tapi pas gue
baru nyampe di mejanya, udahan si Lintang ngomong “Katanya kemarin numpahin
coklat Mil?”, sambil cekikikan sama Ghulam. Oke, karena Ghulam adalah bagian
dari gerombolan monyet kemarin, pasti dia yang nyebar aib ini.
Kemudian Ule
dateng, saat gue masih berjarak beberapa langkah dia udah nanya aja dengan
lantang “Mil bosmu baik banget ya, kamu belum dipecat, hahaha” katanya sambil ketawa
setan. Beruntung gue lagi on duty, kalo enggak bisa gue lemparin pake tumbler
nih si Ule.
Nggak lama
kemudian, Pundan dateng. Kali ini dari jauh doi udah cekikikan. Begitu gue
mendekat, langsung dia bilang “gimana kabar coklat yang ditumpahin Kak?” sambil
ketawa imut. Oke, ini berlebihan. Ini sudah terlalu jauh. Ini pasti ada monyet
yang upload aib gue di media sosial nih. Siapa nih.
Tiba tiba gue
nyesel. Harusnya gue nggak usah eksis. Gue nggak perlu bikin instagram, gue
nggak perlu bikin orang tau kalo gue kerja di Starbucks, biar nggak ada yang
nengokin gue, sekalian nggak ada yang tau bahwa gue telah menjadi The Johny
English yang menyusup ke barisan barista.
God. Gue
merindukan sebagian diri gue yang serius. Gue sampe berharap beneran jadi dukun
sekalian, biar gue bisa menyantet siapapun itu yang nyebarin aib gue. Tapi nasi
sudah menjadi dubur, hiks.
So being eksis
is good. Tapi plis don’t selama lo adalah seorang Johny English, plis.

2 comments
Halo Kak, salam kenal, saya Audy mahasiswa salah satu Universitas di Jogjakarta. Kebetulan saya tertarik untuk melamar kerja Part Time di Starbucks juga, yang sedang membuka lowongan di store Hartono Mall, apakah saya boleh meminta kontak Kakak kak? Seperti Line, WA, atau BBM gitu Kak hehe. Saya ingin bertanya mengenai kerja part time di Starbucks, Terima Kasih banyak Kak :)
ReplyDeletepermisi gan, apa bener ya melamar di starbucks itu ijasahnya ditahan?
ReplyDelete