Being eksis is good, but...

The Johny English while coffee tasting Konon di kampus dan dilingkaran pertemanan di Jogja ini, gue secara nggak sengaja terbilang pu...

The Johny English while coffee tasting

Konon di kampus dan dilingkaran pertemanan di Jogja ini, gue secara nggak sengaja terbilang punya citra yang cukup serius. Ceritanya gini, jurusan Komunikasi di kampus gue dibagi lagi jadi 4 konsentrasi studi: Jurnalisme, Advertising, Public Relations, dan Kajian Media. Gue memilih yang terakhir, yang mana dari segenap mahasiswa seangkatan yang jumlahnya sekian ratus itu, yang senekat dan seimpulsif gue dan ngambil konsentrasi Kajian Media itu cuma....lima orang.

Awalnya gue nggak sengaja milih konstud ini, karena gue nggak ngerasa nggak cantik untuk masuk PR, nggak kreatif untuk masuk Adver, tapi juga males panas panasan nyari berita kayak anak Jurnal. Sementara, kabar burung yang gue denger, anak Kajian Media mah enak, kerjanya cuma diskusi dan bedah buku sambil ngopi sama dosen, dan, anak Kamed  terkenal jarang kerja kelompok (karena belakangan gue tahu yang milih ini cuma dikit, mau dibagi kelompok gimanaa, juga). Akhirnya gue ambillah konstud ini bersama empat cowok absurd lainnya: gue sang waria berambut cepak, ditambah satu anak teater yang jarang mandi, ditambah tiga cowok jawa yang rambutnya panjang sepunggung. Ngeliat kelakuan anak anak yang nggak pernah serius, becandaannya yang abstrak dan super gondes, sebenernya ini lebih cocok disebut sebagai sekelompok dukun aneh yang kerjaannya mojok makan sajen ayam goreng dan kopi item di kantin kampus sambil ngomongin proyek serius; gimana caranya nyantet presiden amerika.

Tapi apa daya, prilaku kita yang ajaib ditambah muka yang sering kusut karena memikirkan tugas segejibun dari dosen ngebuat kita secara nggak sengaja dicap serius sama anak lain di kampus. Jadilah kami terkenal sebagai power ranger, alias lima orang so-anti-mainstream yang mengumpankan jiwanya ke tangan dosen dosen yang konon terkenal keji, dengan aktivitas harian membedah buku buku tebal berbahasa Inggris.

Itulah alkisah awal mula gue secara nggak sengaja membubuhkan kesan serius pada citra gue.

Selanjutnya, kekhilafan gue untuk nyalon jadi Presiden BEM, ditambah kerjaan gue yang terkesan ‘anak aktivis’ banget makin bikin anak anak kampus nganggep gue anak yang super serius dan  cenderung mengarah ke mistik.

Nah. Dalam rangka nunjukkin sebagian diri gue yang sebenarnya alay dan nggak serius serius banget, akhir akhir ini gue ceritanya bikin Instagram. Yeps, I know, I knooow it’s too late, disaat anak anak gawl lainnya udah hijrah ke Path, Periskop, Snapchat dan lainnya. Tapi nggakpapa lah, secara gue emang suka fotografi, dan secara gue trauma abis laptop gue kemalingan dan semua foto berharga hilang digondol anjing, gue berupaya menyimpan sebagian besarnya di Instagram ini.

Di minggu minggu awal kerja di Starbucks, gue beberapa kali upload foto bareng temen temen gue yang entah kenapa mendadak jadi demen banget main kesana. Jadilah di insta gue ada banyak foto me-in-green-apron-with-friends. Asek. So kekinian. Setelah itu, tiap hari ada aja yang nge Whatsapp gue nanyain, “Mil, kerja di Starbucks?” dan diikuti dengan “wah bisa dapet gratisan dong nih”. Anjir mendadak sok eksis gini. Pokoknya I feel so happy, sekalipun capek banget, tapi gue bisa kerja sambil nyolong nyolong kongkow dan ketawa tiwi bareng temen temen atau customer yang mendadak gue jadiin temen. Ah indahnya, apalagi kata bos gue di awal kontrak dulu, kerjaan khas anak baru jadi CP/Cafe Partner ini akan berlangsung sebulan-dua bulan lagi, jadi gue masih punya banyak waktu sebelum jadi barista beneran bikin bikin kopi di dalam bar, hihihi.

Di minggu kedua, manager store gue ngumumin sesuatu. Berhubung kita bakal kedatangan gelombang barista baru lagi,  mendadak kerjaan batch gue jadi makin kompleks; nggak cuma nyapu-ngepel-cuci piring sambil ketawa ketiwi sama customer, tapi gue kudu buruan hafalin resep, masuk bar dan ngebuat minuman. Maksudnya biar kita buruan pinter dan yang lain bisa gantian ngajarin barista baru yang akan segera dateng.  Tapi yaudah lah ya, secepet cepetnya juga paling sebulan lagi gue baru masuk bar. Gue pun nyantai aja dan nggak ngafalin sama sekali catatan resep yang serenteng itu.

Pada hari itu, gue dapet shift closing dengan job utama sebagai CP dan diswasher. Artinya, hari itu akan asik seperti biasa, gue masih bisa keliling keliling sambil kenal kenalan sok asik dengan customer, sambil ala ala bersihin rak merchandise atau condiment bar (meja berisi gula, bubuk bubuk pemanis lainnya buat yang mau improve kopinya). Kebetulan banget segerombol monyet-monyet alias temen temen SMA gue yang kuliah di Jogja lagi mampir. Jadi gue sambil kerja, sesekali mampir ke base mereka di sofa pojokan buat nimbrung cekikikan. Pecat-able banget kan, hihi. Semoga bos gue nggak akan pernah kebaca tulisan ini selama lamanya, amin.

Tiba tiba, nggak ada angin nggak ada hujan apalagi badai khatulistiwa, PIC gue si Kak Ain yang super baik itu bilang: “Emil, masuk ke bar ya. Coba buat minuman.”
“Aku udah bikin PB tadi kak” jawab gue.
Setiap yang kerja di Starbucks ini ceritanya punya jatah minuman yang disebut PB (Partner Beverages), yang mana kita boleh bikin sendiri minuman untuk kita for free, pada saat break. Gue pikir si Kak Ain lagi mempersilakan gue bikin minum buat diri gue sendiri dong. Kemudian dia bilang lagi, “bukan, coba kamu tes masuk bar dan bikin minuman buat customer”. 
Lah.

Gue keringet dingin. Ini baru seminggu kerja, bro. Secara gue masih menata hidup dan menata tulang yang berantakan setiap gue pulang kerja, manalah gue hafal resep. Duh kenapa juga gue nggak mengindahkan warning dari store manager gue beberapa hari lalu. Duh tapi kan tetep aja ini kecepetan. Duh tapi nggak ada waktu lagi buat mengutuk diri ini. Duh mana lagi ada monyet monyet pula, mampus deh gue diketawain kalo bikin kacau. Sekarang gue harus memilih: menolak perintah atasan untuk masuk bar dengan resiko yang tak terbatas seperti gue akan digiling di grinder kopi atau di mesin dishwasher, atau menerima tantangan dengan resiko yang juga tak terbatas, seperti meledakkan mesin kopi, memecahkan blender atau membuat orang keracunan, misalnya.

Kemudian gue ambil yang kedua. Setidaknya resikonya nggak kena langsung ke gue, hehe. Bitch. Masuklah gue ke bar. Order pertama: ice greentea latte. Semesta emang baek. Jaman training dulu, gue juga pernah disuruh tes bikin minuman sambil baca resep, dan salah satu minumannya adalah ice greentea latte. Ini mah gampang. Gue memasukkan semua ingredients kedalam shaker, lalu mengshake dengan anggun. Well done. Gue berhasil mempersembahkan minuman pertama gue untuk customer tercinta. Aha, setidaknya gue nggak membuat kekacauan yang membuat gerombolan monyet monyet itu punya bahan ketawaan. Kemudian, order kedua: ice signature cohocolate. Semesta baik parah. Ini juga ingredientsnya gampang, cuma susu, coklat dan ice, sekalipun gue nggak ingat komposisinya. Ah tapi cincailah itu bisa nanya. Yang penting gue nggak harus gemerusukan kejar kejaran detik dengan mesin kopi, atau bersentuhan dengan urusan nyeteam susu yang susah banget.

Gue mengambil jug cairan coklat dari dalam chiller di bawah stanplat mesin kopi, dan langsung menuang isinya ke dalam cup. Tapi isinya tak kunjung keluar. Setelah gue cek, ternyata tutupnya si jug belum diputar, ya jelas buntu dong. Kemudian gue putar, dan cairan coklat yang terlihat lezat itu turun perlahan. Sangat perlahan, saking kentalnya. Gue menunggingkan pantat jug nya, sampe cairan  turun makin deras, makin nungging, makin deras lagi, sampai tiba tiba... PLOK.

Tutup jug jatuh di hadapan gue.
Diikuti isinya.
Bagaikan bendungan yang jebol, semua ambyar tak terkendali.

Brengsek. Gue numpahin setengah jug cairan coklat. Gue panik. Semua panik. Mana itu cairan makin menyebar tak terarah, menyelinap di bawah mesin kopi, netes ke karet karet di bawah kaki, mengalir ke atas chiller dan lengket bukan main. Gue coba ngelap, hasilnya nihil. Terlalu banyak cairan yang tumpah. Gue pengen nangis, tapi gue nggak pengen bikin minuman customer jadi asin ketumpahan air mata. Lagian gue nggak pengen bikin monyet monyet kegirangan dan motretin gue yang lagi nangis. Akhirnya si Billa, barista senior yang cantik dan baek banget itu mengambil alih keadaan. Doi gesit bantu ngelap-bilas-ngelap-bilas, sementara gue ambil pel pelan buat ngepel lantai. Barista lain bantu bersihin chiller dan bawah mesin kopi, dan kekacauan mereda dalam 5 menit. Gue masih shock. 

What the hell am I doing to my life.

Untuk menyelamatkan store dari kekacauan lain yang akan gue buat, gue tau diri dan langsung out dari bar tanpa diminta. Untuk menebus dosa dan sekalian buang malu, gue nemenin Riesta, si barista senior juga buat pergi ngambil stock tutup cup dan segambreng barang barang lainnya di gudang basement.  Setelah itu, gue kembali ke kodrat semula gue sebagai diswasher.

Keadaan kembali normal. Semua beraktivitas seperti sediakala dan lupa dengan kerugian setengah jug cairan coklat yang sudah gue sebarkan dengan sia sia. Gue lanjut mencuci piring, memasukkannya ke dalam Zanusi (mesin pencuci piring) dan mengelapnya sampai kering. Terusm gue nyiapin satu bak plastik di atas kursi untuk menaruh piring bersih, untuk kemudian gue anter ke depan. Tiba tiba seorang cowok dateng ke backroom, dan gue disuruh kenalan ke itu cowok oleh PIC gue. Kenalan lah kita, dan gue meninggalkan piring piring kesayangan gue untuk sementara. Ternyata cowok itu bernama Dugo, dan dia adalah barista juga di store cabang sebelah. Berkenalanlah kita, sambil haha hihi standar.

Gue undur diri ke Dugo untuk ngelanjutin tugas dishwash, sambil mundur literally. Rupanya dewi kesialan belum beranjak. Saat gue mundur, bak berisi piring bersih itu kesenggol dan terjun bebas dari kursi. Bang..zat. Gue mati aja apa gimana nih. Gue emosi sama keadaan. PIC gue yang tetap baik hati apapun yang gue lakukan itu menenangkan gue. Beberapa barista masuk setelah mendengar suara menggelegar ini. Untungnya, rejeki anak soleh, setelah dihitung, ternyata piring yang pecah cuma satu diantara sekitar dua puluh piring lainnya. Ajaib. Alhamdulilah bangeeet, rasanya gue pengen solat saat itu juga.
Tapi dua jam kemudian, gue baru sadar. Ternyata pecahan piring yang jatuh tadi telah membuat kotak tempat naruh measuring cupnya es batu, yang berbahan aklirik itu, telah tugel alias cuil. Gue nggak tau lagi gimana harus memaafkan diri gue. Piring putih gampang dicari, lah kalo kotak itu, bahkan gue aja nggak tau nyebutnya apa. Kayanya gue emang bener bener lagi ditegur Tuhan biar nggak terlalu banyak cekikikan dalam bekerja. Atau mungkin jadi barista sebenernya emang bukan jalan hidup gue? Atau jangan jangan semesta lagi pengen ngetes sekuat apa gue bertahan mendisiplinkan diri dalam kerjaan yang totally new buat gue ini?

Terserahlah.

Now I feel like Im a Johny English in MI7, you know, like gue yang bakatnya ngerusuh ini menyelinap diantara para barista yang kelakuannya rapi dan tertata abis.

Besokannya, gue bekerja dengan lebih serius dan teliti. Gue sangat berhati hati pada setiap inchi hal yang gue pegang. Selain monyet monyet yang kemarin dateng itu, gue nggak pengen ada lagi yang tau kalo gue udah membuat sejuta kekacauan disini. Enough. Gue pengen dianggep sebagai barista yang anggun dan berwibawa, membuat kopi tanpa menumpahkan apapun.

Beberapa temen gue dateng lagi hari itu.  Pertama si Lintang dan Ghulam. Gue nyamperin dan melayani seperti biasanya. Tapi pas gue baru nyampe di mejanya, udahan si Lintang ngomong “Katanya kemarin numpahin coklat Mil?”, sambil cekikikan sama Ghulam. Oke, karena Ghulam adalah bagian dari gerombolan monyet kemarin, pasti dia yang nyebar aib ini.

Kemudian Ule dateng, saat gue masih berjarak beberapa langkah dia udah nanya aja dengan lantang “Mil bosmu baik banget ya, kamu belum dipecat, hahaha” katanya sambil ketawa setan. Beruntung gue lagi on duty, kalo enggak bisa gue lemparin pake tumbler nih si Ule.  

Nggak lama kemudian, Pundan dateng. Kali ini dari jauh doi udah cekikikan. Begitu gue mendekat, langsung dia bilang “gimana kabar coklat yang ditumpahin Kak?” sambil ketawa imut. Oke, ini berlebihan. Ini sudah terlalu jauh. Ini pasti ada monyet yang upload aib gue di media sosial nih. Siapa nih.

Tiba tiba gue nyesel. Harusnya gue nggak usah eksis. Gue nggak perlu bikin instagram, gue nggak perlu bikin orang tau kalo gue kerja di Starbucks, biar nggak ada yang nengokin gue, sekalian nggak ada yang tau bahwa gue telah menjadi The Johny English yang menyusup ke barisan barista.

God. Gue merindukan sebagian diri gue yang serius. Gue sampe berharap beneran jadi dukun sekalian, biar gue bisa menyantet siapapun itu yang nyebarin aib gue. Tapi nasi sudah menjadi dubur, hiks.


So being eksis is good. Tapi plis don’t selama lo adalah seorang Johny English, plis. 

You Might Also Like

2 comments

  1. Halo Kak, salam kenal, saya Audy mahasiswa salah satu Universitas di Jogjakarta. Kebetulan saya tertarik untuk melamar kerja Part Time di Starbucks juga, yang sedang membuka lowongan di store Hartono Mall, apakah saya boleh meminta kontak Kakak kak? Seperti Line, WA, atau BBM gitu Kak hehe. Saya ingin bertanya mengenai kerja part time di Starbucks, Terima Kasih banyak Kak :)

    ReplyDelete
  2. permisi gan, apa bener ya melamar di starbucks itu ijasahnya ditahan?

    ReplyDelete

Flickr Images