Rejeki Anak Soleh

Di Jogja, Starbucks sampai detik ini baru punya dua cabang store. Satu di Ambarrukmo Plaza, satu di Jogja City Mall. Sejauh ini Amplaz ma...

Di Jogja, Starbucks sampai detik ini baru punya dua cabang store. Satu di Ambarrukmo Plaza, satu di Jogja City Mall. Sejauh ini Amplaz masih dianggap mall teryahud dibanding mall mall lainnya, sekalipun this Amplaz is udah tua, rapuh dan usang but I bet you orang orang lebih pilih ke Amplaz karena tenantnya lebih lengkap dan tempatnya luar biasa strategis. Sekalipun sekarang udah ada Jogja City Mall, Lippo atau Sahid Mall, nggak ngaruh. Tiap hari tetep aja warga Jogja lebih pilih untuk menuh menuhin Amplaz.

Kembali ke Starbucks.

Jadi ada beberapa hal yang  bikin Starbucks Amplaz ini bisa dibilang istimewa. Iya, lo harus tau banget. Pertama, bukan congkak nih, tapi ramenya store ini agak berlebihan untuk sebuah coffee store, karena kecipratan ramenya Amplaz itu tadi. Jadi ya, disini hampir tiap hari lo bakal kena manyun customer yang nggak kebagian tempat duduk. Hampir tiap hari pula lo telat closingan karena sampe malem masih banyak aja customer dateng dan nangkring disitu. Apalagi kalo weekend, duh, lo nggak bisa bedain deh itu Starbucks apa pasar sunmor. Jadi bayangan kerja sebagai barista, bikin latte art cantik cantik, sambil menyambangi customer satu satu dengan suasana rileks dan musik jazzy yang lembut itu adalah mitos belaka. Karena akan ada hari hari—apalagi kalo udah hari promo Line—dimana kerjaan lo cuma namping dan namping, atau ngeblender frappuccino seharian sampe lo bener bener hang dan nggak ngerti bahasa manusia lagi. Amit amit jabang bebi.

Kedua, store Amplaz adalah satu diantara sedikit yang masih pake mesin Lamarzocco, disaat hampir semua store Starbucks sekarang sudah beralih ke mesin espresso Masrena. Which is good, karena manual tampingnya Lamarzocco sebenernya ngebuat rasa kopinya jadi lebih enak ketimbang mesin yang auto. Gitu deh pokoknya.

Ketiga, karena di store Amplaz ada guenya.

Oke skip.
Gue ngomong apaan sih.

Intinya, kerja di Starbucks Amplaz mungkin sedikit berbeda dengan kerja di toko kopi lainnya, karena disini semua begitu hectic. Jadi jam jam pagi banget, atau mungkin pas senja pada saat store sepi, itu adalah bonus tersendiri bagi para barista disini.

Pagi itu gue dapet shift opening, yang artinya gue harus bangun di pagi buta dan harus sudah siap sedia berada di store jam setengah 8 pagi. Tapi tentu aja gue gembira, ya karena jarang jarang anak baru bisa dapat shift openingan. Beda dengan closingan, kerja di jam openingan jauh lebih selow karena lo tinggal tata-tata barang yang sudah dipersiapin sama anak closingan semalam, ditambah suasana store yang biasanya masih sepi pengunjung di pagi hari bikin lo nggak terlalu babak belur.

Gue menyambut pagi itu dengan riang. Mandi dan bersiul siul sampe ketelen sabun. Aktivitas harian gue sebelum kerja pagi itu adalah leyeh leyeh sambil ACan di kamar Ai, ngerumpi bentar sambil nyanyi nyanyi fals sama geng kontrakan, minum es good day karibian (yes I knooow I can get my Starbucks coffee now for free but I love Karibian so much. Haha!) dan sesekali ngepoin instagramnya Adinia Wirasti. Udah gitu aja. So normal and alay.

Tim openingan pagi itu digawangi oleh Saski, Adit, dan Kak Tita sebagai kepala suku alias PIC kita. Gue udah ngebayangin pagi yang cantik dan nggak keringetan, tim yang asik, store yang sepi, bisa sesekali ngobrol sama anak anak sambil nanti bikin PB hot signature chocolate. Ditambah, sepulang kerja jam 5 sore nanti, gue masih bisa nongkrong sama temen temen. What a perfect day.
Dan yeah, its such a perfect day sampai kira kira jam 10 pagi.

Kemudian Cicik Santi, District Manager gue, tiba tiba datang. District Manager ini di atas Supervisor, Asisten Manajer dan Manajer Store. Jadi bisa kita sebut maha manager. Since cicik adalah sosok tauladan nan profesional, maka kedatangan cicik pasti akan membuat semua orang deg degan karena doi super teliti dan bersih. Sedangkan kita tetaplah remaja sembrono yang kadang khilaf dan menaruh gelas, tas, dan barang barang lainnya sembarangan. Jadi adegan ibu-kos-ngomel-ngomelin-anak-kos pasti akan terjadi jika cicik tersayang sudah datang. Ini nggak akan jadi pagi yang santai.

Oke. So, titah pertama yang diturunkan oleh Cicik adalah mengganti tulisan di rest room. Nah kan. Tapi sih itu easy, dan gue lakukan dengan baik.
Kemudian titah meningkat jadi menata ornamen-ornamen natal dalam rangka menyambut season holiday. Artinya kita harus menggantung mistletoe, memajang buku menu baru, dan segenap printil printilan berwarna merah lainnya sesuai dengan standar yang ditetapkan. Kekacauan sedikit terjadi karena rupanya kita belum mempersiapkan semua barang barang holiday itu, yang artinya seluruh pasukan dikerahkan untuk mencari ini dan itu. Kisruh. Tapi tetap, dibawah komando cicik, semua bergerak dengan cepat dan dalam waktu sekejap, store berubah menjadi cantik dan berkilau. Penuh hiasan berwarna merah, lengkap dengan baristanya yang pakai bando tanduk rusa dan topi santa. Gue sampe bangga.

Kemudian, titah selanjutnya adalah memberi pricetag pada semua barang barang yang dipajang di rak merchandise. Dengan bersenjatakan mesin penembak price tag yang entah apa namanya itu, gue dengan teliti menempelkan harga di every single things pada rak merchandise itu. Tentu saja sambil komat kamit berdoa agar tangan ini tidak memecahkan barang apapun.

Belum selesai sampai disitu, sang maha manajer meminta tolong untuk mendata dan menyusun kembali semua stok tumbler yang ada di backroom. Oke, ini sudah level dewa. Berhubung backroom itu nggak luas luas banget, jadi lo harus tabah banget ketika membongkar, mencatat dan menata tumbler ditengah tengah hiruk pikuk partner yang keluar masuk. Dengan penuh tanggung jawab gue dan Kak Tita mendata semua tumbler dan menatanya kembali dengan sangat cantik kedalam kardus. Well done.

Akhirnya badai maha manajer pun usai. Gue pikir pikir, sebenernya ada baiknya juga kalo cicik sering sering dateng ke store, karena hasilnya store emang jadi selalu rapi dengan keberadaannya. Cuman ya gitu, hasilnya, pagi pagi gue udah keringetan dan kelaperan, dan rencana minum hot chocolate sambil ngobrol cantik di pagi hari buyar sudah.
Hari yang aktif itu ngebuat gue dehidrasi dan minum segalon galon.

Baru aja pengen nyantai dikit, tiba tiba hujan turun.

Yes, kalau kebanyakan remaja sepantaran gue suka hujan karena bisa mendukung kegiatan mereka untuk galau galauan, gue nggak suka hujan. Karena hujan means basah basahan, becek, dingin, males, belum termasuk ribetnya kemana mana bawa sandal, mantel, dan baju dobel. Keribetan dikala hujan ini diperparah dengan kondisi store yang rawan becek kalau hujannya turun kayak lagi kesurupan, deres banget. Alhasil, kita harus standby dan sering sering ngepel agar tidak jatuh korban terpeleset disitu. Sementara monyet monyet yang diselamatkan dari bencana terpeleset ini justru asyik tanpa dosa menginjak kembali lantai yang masih basah setelah dipel. Rasanya gue pengen naro bom di tiap minuman customer yang masih ngeyel nginjek lantai basah. Tapi bomnya ntar mati korslet kena air. Yaudah gue ngedumel dalem ati aja. Jadilah seluruh lantai penuh dengan jejak jejak hitam dan membuat smoking area terlihat seperti kandang bebek. Uh!

Selain itu, hujan di hari itu bener bener menguji ketabahan karena gue jadi ngga bisa cari makan keluar mall, ditambah gue harus berjuang mati matian nahan pipis.

Ehm. 
Iya, nahan pipis. Karena keteledoran gue, tadi pagi gue salah pake sabuk yang entah milik siapa dirumah, yang ternyata sudah rusak. Nggak bisa dibuka. Harus dipotong banget. Jadi gue semacam terkurung di dalam celana sendiri. Akhirnya gue terpaksa nahan pipis sampe shift usai, setelah itu gue bisa bebas merajang itu sabuk sialan.

Okey, jadilah gue beli makan di Oishi dan cuma break sambil duduk supaya nggak makin kebelet pipis. Pas lagi break, gue makan sambil tetep manyun di pojokan backroom. Tetiba si Elna dan beberapa anak lain masuk gerudukan sambil heboh tereak “Eh eh, ada Ardina tuh” katanya sambil gelagapan.

Apa lagi deh ini.
Gue nggak peduli. Film murahan yang cuma modal jual paha dan belahan dada remaja remaja cewek berjudul Virgin- Akibat Pergaulan Bebas atau apapun itu udah bikin gue ilfil sama this Ardina Rasti girl. Ditambah kelakuannya yang demen obral air mata dan sensasi dramanya dengan Eza Gionino, gue makin eneg dengan artis yang gigi depannya sedikit gupil itu. Tapi ngomong ngomong kalo eneg kenapa gue paham banget ya soal Ardina Rasti ini? Ya nggak tau lah ya pokoknya gitu.

Anyway, si Elna ngelanjutin omongannya. “Sama Prissy tuh, Prissy siapa, Prissilia”. Gitu katanya. Gue makin nggak ada bayangan sebenernya siapa yang dimaksud Elna ini. Terserah elo, yang penting gue laper. Tapi tiba tiba aja gue kepikir, jangan jangan yang dimaksud adalah Prisia Nasution. Ituloh, aktris tinggi yang mirip Widi Vierra, suka main FTV, yang merupakan pujaan hati gue setelah Adinia Wirasti tentunya. Kalo emang beneran ada Prisia, KAN LEH UGHA.

Akhirnya dengan mulut penuh nasi dan ayam tepung gue melongok keluar dan mengecek siapakah gerangan artis yang datang untuk beli kopi itu. Gue menyapu pandangan ke seluruh store dan melihat apakah ada tanda tanda kedatangan artis disitu. Nihil. Tidak ada Ardina Rasti, Prisia Nasution, apalagi Rosiana Silalahi. Kemudian gue berbalik dan kembali makan. Pas gue muter badan, gue melihat sosok tinggi langsing, pake baju putih berdiri di pick up bar sambil menunggu kopinya selesai dibuatkan. Bukan, ini bukan cewek baju putih sejenis hantu, karena setau gue Starbucks nggak pernah pake pelaris dengan naro naro pocong di store. Tapi hantu, eh,  cewek yang ini bikin gue kaget, shock kaya ngeliat setan.


Demi apapun di dunia ini, cewek itu adalah Adinia Wirasti. ADINIA WIRASTI. Gue gemetar, kehilangan selera makan dan lupa kalo lagi kebelet pipis. Oke maaf kalo gue sedikit udik. Sebelumnya gue pernah beberapa kali ketemu artis, sumpah gue nggak sealay ini. Bahkan ngobrol sama the Reza Rahadian boy, pujaan segala bangsa pun pernah gue jabanin berkali kali, dan nothing happen. Gue nggak grogi sedikitpun. Tapi kali ini lutut gue langsung lemes.

Barusan aja tadi pagi gue kepoin instagramnya, sambil ngimpi kapan ya gue bisa bikin lagu, jadi penyanyi terkenal, dan bisa temenan sama doi. Oke mimpi itu ketinggian. Tapi seenggaknya ketemu dan foto bareng juga boleh deh, doa gue tiap malem. Haha sori sori gue hilang kendali. Tanpa pikir panjang gue seret Bayu buat temenin gue minta foto. Tadinya doi udah keluar store dan udah jalan agak jauh. Pas gue panggil dengan tangan gemetar, doi noleh dan senyum.

Gue: Ng... Kak Asti...
AW:  *noleh sambil senyum*
Gue: *meninggal ditempat*

Eh enggak deng.

Gue: Boleh...foto..bareng nggak kak? *pasang muka puss in boots*
AW: Boleeh. Tapi jangan lama lama ya, saya ada janji soalnya.
Gue: Yakali aq minta lama lama kan. Aku mah apa atuh, cuma remah remah rempeyek, masak berani ngajak qaqa ngedate sambil minum kopi. *alay gue kumat*
AW: haha..ada ada aja. Yuk foto.

GUSTIALAH KETAWANYA MANIS BANGET.

Kemudian semuanya terjadi dengan cepat. Foto barengnya maksudnya. Bayu dengan sigap motretin gue. Kemudian doi cabut. Kemudian gue terbang ke awan. Hahaha.

Hari itu gue nggak jadi sebel sama ujan. Gue jadi sayang banget sama cicik yang memberi banyak tugas. Ayam tepung Oishi yang membosankan terasa lezat sekali. Sabuk yang rusak? Nggak papah, pipisnya bisa lain kali. Bintang bintang gemerlapan, ornamen Natal begitu semarak memberi selamat gue atas ketemunya gue dengan Adinia Wirasti hari itu. Oke sori lebay, tap hari yang rusuh itu berubah menjadi hari terbaik selama kerja di Starbucks yang nggak akan gue lupain. Haha!


Rejeki anak soleh kak..

You Might Also Like

1 comments

  1. Haiii, kak emil (bener ga ya namanya? Hehe).
    I'm enjoying reading your blog. Lucu deh cara nulisnya.
    Keep writing yaaa hehe

    ReplyDelete

Flickr Images