BaristaLife
PersonalLife
Starbucks
Rejeki Anak Soleh
11:15 PM
Di Jogja, Starbucks sampai detik
ini baru punya dua cabang store. Satu di Ambarrukmo Plaza, satu di Jogja City
Mall. Sejauh ini Amplaz masih dianggap mall teryahud dibanding mall mall
lainnya, sekalipun this Amplaz is udah tua, rapuh dan usang but I bet you orang
orang lebih pilih ke Amplaz karena tenantnya lebih lengkap dan tempatnya luar
biasa strategis. Sekalipun sekarang udah ada Jogja City Mall, Lippo atau Sahid
Mall, nggak ngaruh. Tiap hari tetep aja warga Jogja lebih pilih untuk menuh
menuhin Amplaz.
Kembali ke Starbucks.
Jadi ada beberapa hal yang bikin Starbucks Amplaz ini bisa dibilang
istimewa. Iya, lo harus tau banget. Pertama, bukan congkak nih, tapi ramenya
store ini agak berlebihan untuk sebuah coffee store, karena kecipratan ramenya
Amplaz itu tadi. Jadi ya, disini hampir tiap hari lo bakal kena manyun customer
yang nggak kebagian tempat duduk. Hampir tiap hari pula lo telat closingan
karena sampe malem masih banyak aja customer dateng dan nangkring disitu.
Apalagi kalo weekend, duh, lo nggak bisa bedain deh itu Starbucks apa pasar
sunmor. Jadi bayangan kerja sebagai barista, bikin latte art cantik cantik,
sambil menyambangi customer satu satu dengan suasana rileks dan musik jazzy
yang lembut itu adalah mitos belaka. Karena akan ada hari hari—apalagi kalo
udah hari promo Line—dimana kerjaan lo cuma namping dan namping, atau
ngeblender frappuccino seharian sampe lo bener bener hang dan nggak ngerti
bahasa manusia lagi. Amit amit jabang bebi.
Kedua, store Amplaz adalah satu
diantara sedikit yang masih pake mesin Lamarzocco, disaat hampir semua store
Starbucks sekarang sudah beralih ke mesin espresso Masrena. Which is good,
karena manual tampingnya Lamarzocco sebenernya ngebuat rasa kopinya jadi lebih
enak ketimbang mesin yang auto. Gitu deh pokoknya.
Ketiga, karena di store Amplaz
ada guenya.
Oke skip.
Gue ngomong apaan sih.
Intinya, kerja di Starbucks Amplaz
mungkin sedikit berbeda dengan kerja di toko kopi lainnya, karena disini semua
begitu hectic. Jadi jam jam pagi banget, atau mungkin pas senja pada saat store
sepi, itu adalah bonus tersendiri bagi para barista disini.
Pagi itu gue dapet shift opening,
yang artinya gue harus bangun di pagi buta dan harus sudah siap sedia berada di
store jam setengah 8 pagi. Tapi tentu aja gue gembira, ya karena jarang jarang
anak baru bisa dapat shift openingan. Beda dengan closingan, kerja di jam
openingan jauh lebih selow karena lo tinggal tata-tata barang yang sudah
dipersiapin sama anak closingan semalam, ditambah suasana store yang biasanya
masih sepi pengunjung di pagi hari bikin lo nggak terlalu babak belur.
Gue menyambut pagi itu dengan
riang. Mandi dan bersiul siul sampe ketelen sabun. Aktivitas harian gue sebelum
kerja pagi itu adalah leyeh leyeh sambil ACan di kamar Ai, ngerumpi bentar sambil
nyanyi nyanyi fals sama geng kontrakan, minum es good day karibian (yes I
knooow I can get my Starbucks coffee now for free but I love Karibian so much. Haha!)
dan sesekali ngepoin instagramnya Adinia Wirasti. Udah gitu aja. So normal and
alay.
Tim openingan pagi itu digawangi
oleh Saski, Adit, dan Kak Tita sebagai kepala suku alias PIC kita. Gue udah
ngebayangin pagi yang cantik dan nggak keringetan, tim yang asik, store yang
sepi, bisa sesekali ngobrol sama anak anak sambil nanti bikin PB hot signature
chocolate. Ditambah, sepulang kerja jam 5 sore nanti, gue masih bisa nongkrong
sama temen temen. What a perfect day.
Dan yeah, its such a perfect day
sampai kira kira jam 10 pagi.
Kemudian Cicik Santi, District
Manager gue, tiba tiba datang. District Manager ini di atas Supervisor, Asisten
Manajer dan Manajer Store. Jadi bisa kita sebut maha manager. Since cicik
adalah sosok tauladan nan profesional, maka kedatangan cicik pasti akan membuat
semua orang deg degan karena doi super teliti dan bersih. Sedangkan kita
tetaplah remaja sembrono yang kadang khilaf dan menaruh gelas, tas, dan barang
barang lainnya sembarangan. Jadi adegan ibu-kos-ngomel-ngomelin-anak-kos pasti
akan terjadi jika cicik tersayang sudah datang. Ini nggak akan jadi pagi yang
santai.
Oke. So, titah pertama yang
diturunkan oleh Cicik adalah mengganti tulisan di rest room. Nah kan. Tapi sih
itu easy, dan gue lakukan dengan baik.
Kemudian titah meningkat jadi
menata ornamen-ornamen natal dalam rangka menyambut season holiday. Artinya
kita harus menggantung mistletoe, memajang buku menu baru, dan segenap printil printilan
berwarna merah lainnya sesuai dengan standar yang ditetapkan. Kekacauan sedikit
terjadi karena rupanya kita belum mempersiapkan semua barang barang holiday
itu, yang artinya seluruh pasukan dikerahkan untuk mencari ini dan itu. Kisruh.
Tapi tetap, dibawah komando cicik, semua bergerak dengan cepat dan dalam waktu
sekejap, store berubah menjadi cantik dan berkilau. Penuh hiasan berwarna
merah, lengkap dengan baristanya yang pakai bando tanduk rusa dan topi santa.
Gue sampe bangga.
Kemudian, titah selanjutnya
adalah memberi pricetag pada semua barang barang yang dipajang di rak
merchandise. Dengan bersenjatakan mesin penembak price tag yang entah apa
namanya itu, gue dengan teliti menempelkan harga di every single things pada
rak merchandise itu. Tentu saja sambil komat kamit berdoa agar tangan ini tidak
memecahkan barang apapun.
Belum selesai sampai disitu, sang
maha manajer meminta tolong untuk mendata dan menyusun kembali semua stok
tumbler yang ada di backroom. Oke, ini sudah level dewa. Berhubung backroom itu
nggak luas luas banget, jadi lo harus tabah banget ketika membongkar, mencatat
dan menata tumbler ditengah tengah hiruk pikuk partner yang keluar masuk.
Dengan penuh tanggung jawab gue dan Kak Tita mendata semua tumbler dan
menatanya kembali dengan sangat cantik kedalam kardus. Well done.
Akhirnya badai maha manajer pun
usai. Gue pikir pikir, sebenernya ada baiknya juga kalo cicik sering sering
dateng ke store, karena hasilnya store emang jadi selalu rapi dengan
keberadaannya. Cuman ya gitu, hasilnya, pagi pagi gue udah keringetan dan
kelaperan, dan rencana minum hot chocolate sambil ngobrol cantik di pagi hari
buyar sudah.
Hari yang aktif itu ngebuat gue
dehidrasi dan minum segalon galon.
Baru aja pengen nyantai dikit,
tiba tiba hujan turun.
Yes, kalau kebanyakan remaja
sepantaran gue suka hujan karena bisa mendukung kegiatan mereka untuk galau
galauan, gue nggak suka hujan. Karena hujan means basah basahan, becek, dingin,
males, belum termasuk ribetnya kemana mana bawa sandal, mantel, dan baju dobel.
Keribetan dikala hujan ini diperparah dengan kondisi store yang rawan becek
kalau hujannya turun kayak lagi kesurupan, deres banget. Alhasil, kita harus
standby dan sering sering ngepel agar tidak jatuh korban terpeleset disitu.
Sementara monyet monyet yang diselamatkan dari bencana terpeleset ini justru
asyik tanpa dosa menginjak kembali lantai yang masih basah setelah dipel. Rasanya
gue pengen naro bom di tiap minuman customer yang masih ngeyel nginjek lantai
basah. Tapi bomnya ntar mati korslet kena air. Yaudah gue ngedumel dalem ati
aja. Jadilah seluruh lantai penuh
dengan jejak jejak hitam dan membuat smoking area terlihat seperti kandang
bebek. Uh!
Selain itu, hujan di hari itu bener
bener menguji ketabahan karena gue jadi ngga bisa cari makan keluar mall,
ditambah gue harus berjuang mati matian nahan pipis.
Ehm.
Iya, nahan pipis. Karena keteledoran
gue, tadi pagi gue salah pake sabuk yang entah milik siapa dirumah, yang
ternyata sudah rusak. Nggak bisa dibuka. Harus dipotong banget. Jadi gue
semacam terkurung di dalam celana sendiri. Akhirnya gue terpaksa nahan pipis
sampe shift usai, setelah itu gue bisa bebas merajang itu sabuk sialan.
Okey, jadilah gue beli makan di
Oishi dan cuma break sambil duduk supaya nggak makin kebelet pipis. Pas lagi
break, gue makan sambil tetep manyun di pojokan backroom. Tetiba si Elna dan
beberapa anak lain masuk gerudukan sambil heboh tereak “Eh eh, ada Ardina tuh”
katanya sambil gelagapan.
Apa lagi deh ini.
Gue nggak peduli. Film murahan
yang cuma modal jual paha dan belahan dada remaja remaja cewek berjudul Virgin-
Akibat Pergaulan Bebas atau apapun itu udah bikin gue ilfil sama this Ardina
Rasti girl. Ditambah kelakuannya yang demen obral air mata dan sensasi dramanya
dengan Eza Gionino, gue makin eneg dengan artis yang gigi depannya sedikit
gupil itu. Tapi ngomong ngomong kalo eneg kenapa gue paham banget ya soal Ardina
Rasti ini? Ya nggak tau lah ya pokoknya gitu.
Anyway, si Elna ngelanjutin
omongannya. “Sama Prissy tuh, Prissy siapa, Prissilia”. Gitu katanya. Gue makin
nggak ada bayangan sebenernya siapa yang dimaksud Elna ini. Terserah elo, yang
penting gue laper. Tapi tiba tiba aja gue kepikir, jangan jangan yang dimaksud
adalah Prisia Nasution. Ituloh, aktris tinggi yang mirip Widi Vierra, suka main
FTV, yang merupakan pujaan hati gue setelah Adinia Wirasti tentunya. Kalo emang
beneran ada Prisia, KAN LEH UGHA.
Akhirnya dengan mulut penuh nasi
dan ayam tepung gue melongok keluar dan mengecek siapakah gerangan artis yang
datang untuk beli kopi itu. Gue menyapu pandangan ke seluruh store dan melihat
apakah ada tanda tanda kedatangan artis disitu. Nihil. Tidak ada Ardina Rasti,
Prisia Nasution, apalagi Rosiana Silalahi. Kemudian gue berbalik dan kembali
makan. Pas gue muter badan, gue melihat sosok tinggi langsing, pake baju putih
berdiri di pick up bar sambil menunggu kopinya selesai dibuatkan. Bukan, ini
bukan cewek baju putih sejenis hantu, karena setau gue Starbucks nggak pernah
pake pelaris dengan naro naro pocong di store. Tapi hantu, eh, cewek yang ini bikin gue kaget, shock kaya
ngeliat setan.
Demi apapun di dunia ini, cewek
itu adalah Adinia Wirasti. ADINIA WIRASTI. Gue gemetar, kehilangan selera makan
dan lupa kalo lagi kebelet pipis. Oke maaf kalo gue sedikit udik. Sebelumnya
gue pernah beberapa kali ketemu artis, sumpah gue nggak sealay ini. Bahkan
ngobrol sama the Reza Rahadian boy, pujaan segala bangsa pun pernah gue jabanin
berkali kali, dan nothing happen. Gue nggak grogi sedikitpun. Tapi kali ini
lutut gue langsung lemes.
Barusan aja tadi pagi gue kepoin
instagramnya, sambil ngimpi kapan ya gue bisa bikin lagu, jadi penyanyi
terkenal, dan bisa temenan sama doi. Oke mimpi itu ketinggian. Tapi seenggaknya
ketemu dan foto bareng juga boleh deh, doa gue tiap malem. Haha sori sori gue
hilang kendali. Tanpa pikir panjang gue seret Bayu buat temenin gue minta foto.
Tadinya doi udah keluar store dan udah jalan agak jauh. Pas gue panggil dengan
tangan gemetar, doi noleh dan senyum.
Gue: Ng... Kak Asti...
AW: *noleh sambil senyum*
Gue: *meninggal ditempat*
Eh enggak deng.
Gue: Boleh...foto..bareng nggak
kak? *pasang muka puss in boots*
AW: Boleeh. Tapi jangan lama lama
ya, saya ada janji soalnya.
Gue: Yakali aq minta lama lama
kan. Aku mah apa atuh, cuma remah remah rempeyek, masak berani ngajak qaqa
ngedate sambil minum kopi. *alay gue kumat*
AW: haha..ada ada aja. Yuk foto.
GUSTIALAH KETAWANYA MANIS BANGET.
Kemudian semuanya terjadi dengan
cepat. Foto barengnya maksudnya. Bayu dengan sigap motretin gue. Kemudian doi
cabut. Kemudian gue terbang ke awan. Hahaha.
Hari itu gue nggak jadi sebel
sama ujan. Gue jadi sayang banget sama cicik yang memberi banyak tugas. Ayam
tepung Oishi yang membosankan terasa lezat sekali. Sabuk yang rusak? Nggak
papah, pipisnya bisa lain kali. Bintang bintang gemerlapan, ornamen Natal
begitu semarak memberi selamat gue atas ketemunya gue dengan Adinia Wirasti
hari itu. Oke sori lebay, tap hari yang rusuh itu berubah menjadi hari terbaik
selama kerja di Starbucks yang nggak akan gue lupain. Haha!
Rejeki anak soleh kak..

1 comments
Haiii, kak emil (bener ga ya namanya? Hehe).
ReplyDeleteI'm enjoying reading your blog. Lucu deh cara nulisnya.
Keep writing yaaa hehe