The new green apron team!

Setelah interview diawal bulan September lalu, ceritanya gue lucky dan sekarang resmi menjadi bagian dari the green apron. Prosesnya bis...


Setelah interview diawal bulan September lalu, ceritanya gue lucky dan sekarang resmi menjadi bagian dari the green apron. Prosesnya bisa dibilang singkat dibandingin yang lainnya, gak sampe sebulan, tau tau gue udah training aja di awal bulan Oktober ini. Tapi oke, biar seru akan gue jabarin proses ribetnya, kali aja ada pembaca yang pengen apply jadi barista Starbucks dan kepengen tau pengalaman gue (kalau ada yang baca pun, hehe).

Seminggu persis setelah interview dengan kemeja flanel sialan itu, di sore yang hectic gue mendadak ditelpon nomer dengan kode 021. Waktu itu gue pas jadi notetaker acara yang diadain oleh semacam NGO (organisasi sosial) internasional, gitu gitu deh, di sebuah hotel. Jadi di tengah tengah si speaker heboh ceramah pake bahasa Inggris, gue ikutan heboh ngomong pake bahasa Inggris juga diluar ruangan, berhubung sang HRD interview in english. Jadilah adegan kenceng kencengan urat leher antara gue, si speaker seminar, dan mbak HRD yang entah siapa namanya gue gak tau karena gak kedengeran:

“Okay emil, so can you tell me about yourself?” mbak HRD memulai percakapan.

“ Of course, my name is Emilda Rizky, I was born in Surabaya 22 years ago,  grew up in Balikpapan, and just graduated blablabla” jawab gue.

“So the social change is when you blablabla..” gema suara si speaker nggak mau kalah dari dalem ruangan.

“Are you busy now? Is it okay if I doing this call now?” mbak HRD meminta perhatian.

“No no, it’s totally fine. I can take a break for a while, dan blabla” jawab gue peres peres. Gue refleks belagak gak sibuk, supaya mbak HRD tau kalo gue lagi pengangguran banget, dan hanya dirinyalah satu satunya pegangan hidup yang menentukan nasib gue saat ini. Plis mbak, terimalah..

Untuk menghindari perang suara yang memanas, gue mencoba menjauh sejauh jauhnya dari ruangan seminar supaya interview berjalan lancar dan agar mbak HRD bangga sama gue.  Jalanlah gue ke area balkon. Ternyata cobaan hidup belum selesai. Balkon means pemandangan, yang mana bawah lo adalah jalanan dan brisik knalpot kendaraan menjadi tantangan interview berikutnya. Si mbak HRD komplain karena berisik. Sebagai calon pekerjanya yang baik, kemudian gue lari lari lagi ke area tengah, biar jauh dari suara seminar maupun knalpot blombongan. Pokoknya apa aja dah buat mbak HRD.

Gue nemuin satu spot yang cucok di tengah tengah hotel, persis di deket lift. Keadaan hening, sepi, hanya ada gue dan mbak HRD, berdua merangkai janji janji masa depan. Eh, melakukan interview deng.

“Oke mbak sekarang saya sudah menjauh dari keramaian.”

“Yap oke, suara kamu sudah tidak terdengar berisik dari sini. Kita lanjut ya. So Emil, do xxx 
xxxxx tatu?

Gue agak agak nggak denger apa yang doi tanya barusan. Nggak enak banget kan tapi, kalo minta doi ngulangin. Kesannya budeg aja gitu. Kemudian gue mengira ngira pertanyaannya. Ada clue “tatu” di akhir kalimatnya, pikir gue. Apakah dia menanyakan gue fansnya band tatu atau bukan? Bagaimana dia bisa tau? Apakah hubungan antara gue, TATU dan Starbucks? Gue mulai bingung. Oh! Doi pasti nanya apakah gue punya tatu (tato) atau enggak.

“No, maam. I dont have any tattoo.” Jawab gue.

“Okay, good.” jawab doi.

Berhasil.  Jawaban  gue bener.

“ But I see there is a piercing on your ear, right? Xxxx xxxx take it down, xxxx are xxxxx duty?” doi nanya lagi.

“Yes maam, I have piercing on my ear, but of course I can take it down when Im working” jawab gue lagi dengan penuh perkiraan.

“Okay, good. Thats all for phisically things. And now we move to Coffee and barista stuff. What is xxxxxxxxxx barista xxxxx for you?”

Duh mampus. Gue gak denger apa yang ditanya barusan. Suaranya kresek kresek. Kali ini gue bener bener gak punya bayangan doi nanya apa. Kemudian gue berpikir keras, jawaban apa yang kira kira masuk akal. Dan gue jawablah dengan :

“Barista, simply is a coffee maker. The main job of barista is to serve the customer the best coffee in many ways, like cappucinno or latte. “ jawab gue mantep. Mantep banget. Karena beberapa hari sebelumnya gue emang sempet googling dikit lah soal kopi kopi. Seenggaknya pengetahun gue nambah dikit, kopi nggak cuma ada good day carribean dan chococino, tapi gue udah tau bedanya Cappuccino dan Latte. Gila nggak wawasan gue. Nggak sia sia deh gue udah belajar. Apalagi tadi gue ngejawab dengan gaya berapi api kayak Bung Karno lagi orasi. Pasti mbak HRD terkesima, dan abis ini gue langsungan disuruh teken kontrak. Trus si HRD jawab lagi:

“No, It is not my question Emil. I ask you what is xxxxxxxxxxxxxx?”

Wanjir. Ternyata jawaban gue meleset. Tapi kuping gue tetep aja nggak denger pertanyaan doi.

“Im  really sorry maam,  but would you repeat the question again?”

“ What xxxxxxx you xxxxx thinkxxxx Starbucks Barista?”

Ng....................(gue masih berusaha menebak nebak doi ngomong apa)

“ WHAT IS YOUR MOTIVATION , MOTIVASI, MOTIVASIMU, MENJADI BARISTA STARBUCKS APA??”

Bazing. Gue membayangkan ada percikan api yang keluar dari mulut naga di seberang sana. Gue panik dan ngejawab sekenanya. Semua hal hal yang nyerempet soal Starbucks kaya ‘third place’, ‘Starbucks Experience’, dan lainnya gue sebutin secara acak dan penuh khayal khayal.

Lepas dari rongrongan seminar dan knalpot blombongan, rupanya sekarang sinyal yang menguji ketabahan gue. Entah apa yang terjadi, mungkin karena atap hotel yang rendah, dollar naik atau kolam renang yang belum dikuras (?), sinyal mendadak ambyar, dan suara mbak HRD timbul tenggelam. Bajinguk. Gue lari lari lagi ke deket ruang seminar, tapi si speaker tambah menggila ceramah dengan semangat 45. Gue udah hampir masuk mendobrak ruangan dan menembak si speaker tepat di jantungnya biar dia ngga berisik lagi, tapi gue inget kalo honor gue belum dibayar. Gue nggak jadi nembak. Lagian gue juga beru inget kalo nggak punya pistol. Akhirnya gue paksain konsentrasi ngelanjutin interview di tengah suara halilintar speaker dari mikrofon di dalam ruangan.

Gue udah konsentrasi dan pasang telinga buat jawab pertanyaan selanjutnya, dan mbak HRD melanjutkan interviewnya yang sebagiannya gue nggak denger dia ngomong apa. Gue jawab serampangan. Mbak HRD makin banyak pake bahasa Indonesia, sang speaker dari dalam ruangan makin menjadi, kali ini suara tawa peserta ikutan masuk dalam mikrofon. Suasana tak terkendali.

Kemudian mendadak si mbak HRD bilang:

“Okelah, besok kamu medical check up di klinik Prodia ya, yang dijalan Kusumanegara. Gitu dulu aja, terimakasih  Emil, selamat sore.”

Udah. Gue ditinggal gitu aja. Sepertinya dia lelah.

Gue masih figuring out apa yang terjadi. What?! Gue ketrima nih ceritanya?? Trus medical check upnya gimana? Diumumin lagi kapan? Tapi semua pertanyaan itu gue pendam dalam dalam, bukan karena gue pendiam tapi karena mbak HRD memang udah menutup teleponnya.

Besok paginya, sesuai instruksi, gue medical check up jam 7 pagi, tes darah dan rontgen paru paru. Kemudian gue digantungin, sampe seminggu kemudian baru ditelpon lagi oleh Store Manager Starbucks Amplas. Gue harus kumpulin belasan berkas yang jumlahnya udah kayak mau ngurus berkas nikah. Setelah melengkapi berkas, dua minggu kemudian gue dan tiga orang lainnya yang sesama batch dikasi training dasar selama dua hari. Setelah itu, langsungan on floor alias kerja beneran. Fiuh!

Cepet ya prosesnya?
Iya, cepet. Cuma satu bulan loh sejak interview pertama.

Gampang ya masuk Starbucks?
Iya gampang, gue aja bisa.

Tapi men, ada hal yang belom gue sebutin. Buat kasus gue pribadi, masuk Starbucks bukan hal yang gampang gampang banget. Apalagi itungannya gue nggak punya hal yang menonjol banget yang mereka butuhin. Gue nggak cakep cakep banget. Gue nggak paham soal kopi, pun soal hospitality. Gue rasa, satu satunya alasan yang bikin gue ketrima di Starbucks adalah kesabaran doang.
Iya, kesabaran. Sebenernya, proses masuknya gue di Starbucks aslinya bukan dimulai sejak September lalu, waktu walk in interview. Tapi sebenernya, gue udah pernah berkali kali masukkin CV dan apply ke beberapa store Starbucks yang kemudian berkasnya cuma ketumpuk lama sampai pada akhirnya diproses lagi, jauh jauh hari sebelumnya.

Kapan?

Agustus.

Agustus 2014.
Jadi gimana? Nggak gampang dan nggak cepet kan?

But anyway, pada akhirnya gue bisa juga kasih centang di salah satu bucketlist yang pengen banget gue jabanin dalam hidup ini: jadi barista. Now here we are. Perkenalkan, the new green apron team! 

You Might Also Like

3 comments

  1. Mbak, boleh minta alamat emailnya? Kebetulan aku baru aja apply lamaran ke Sbuck. Mau tanya-tanya hehe alamat email saya rantijira@yahoo.com if you mind to :)

    ReplyDelete
  2. keren banget kak emil, pengen juga apply kerja di sbuck, tapi ya takut ga ktrim karena ga pernah punya pengalaman sbelumnya

    ReplyDelete
  3. kk, aku boleh tanya ga kalo kerja d sbux, pakaian dari atas sampe bawah harus kek ap?
    thanx

    ReplyDelete

Flickr Images